selamat datang dan terima kasih atas kunjungannya

Kamis, 11 April 2013

puisi asmara



Asmara luka

Kini ku coba mengungkapkan siapakah dirinya
Yang telah mengaku menjadi seorang kekasih itu
Aku  tak  pernah bisa memahami

Bila malam tiba kan ku relakan
Dengan siapa kau akan melewatinya
Aku tak pernah bisa memahami

Aku seorang lelaki tak mungkin menerimamu 
bila Ternyata kau mendua, 
membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilihku, 

jika aku bukan pilihan hatimu
Wanita yang ku kenal hatinya
Aku tak bisa memahaminya

Tak perlu kau memilihku
Aku lelaki bukan tuk dipilih





Asmara
Kemana ku berjalan
Debu dan keringat
Yang ada diatas kulit tubuh ini
Saksi bisu bahwa
Tak mudah dan tak segampang
Yang selama ini aku sangka tentang asmara

Cermin di segala tempat
Sahabat terdekat
Tak pernah terlambat

Menampung setiap ungkapan
Mendekap semua keluhan
Meraih suka
Menangkap tawa
Merebut duka

Satu cerita dua manusia
Terlibat dalam amuk asmara
Satu cerita yang memang ada
Tak mungkin mati jelas abadi
Selama manusia hidup dalam alam ini

Maafkan kalau ku salah duga
Ternyata asmara itu
Tak mudah tak gampang dan tak secengeng
Yang kukira yang kusangka




Asmara
Awan hitam semakin legam
Hujan panas silih berganti
Gelombang panas menyengat bumi
Insan merintih tak berhenti
Rintih tangis di malam hari
Jerit pilu menyayat kalbu
Wajah sendu menanti pagi
Hujan badai berhenti
Kicau burung ramai bernyanyi
Tanda musim berganti
Kasihku kan datang berlari
Menjemput hatiku yang sepi
Kini ku bersama kembali
Seperti dahulu berseri
Asmaraku yang telah pergi
Kini bersemi lagi

tabir gelap yang dulu hinggap
lambat laun mulai terungkap
labil tawamu tak pasti tangismu
jelas membuat aku sangat ingin mencari
apa yang tersembunyi di balik manis senyum
muapa yang tersembunyi
di balik bening dua matamu
dapat ku temuimengapa engkau tak pasti
lalu aku cobauntuk mengerti
saat engkau tiba
disimpang jalanlalu kau bimbang
untuk tentukan arah tujuan
jalan gelap yang kau pilihpenuh lubang dan mendaki
jalan gelap yang kau pilihpenuh lubang dan mendaki


Angan dan Ingin seperti Angin
Sambil tersenyum dan tanpa beban
Sepanjang jalan menarik perhatian
Rambutnya panjang
Rampingnya pinggang
Celana blue jeans mengukir tubuhnya sempurna

Tua muda berangan melihatnya
Seperti aku ingin bersamanya
Tapi sayangnya
Angan dan ingin
Seperti angin

Tiada habisnya
Tiada hentinya
Melayang

Tiada habisnya
Tiada hentinya
Menggoyang

Tiada habisnya
Tiada hentinya
Menantang

Tiada habisnya
Tiada hentinya
Sehingga hujan turun mengecewakan



Kala surya kan tiba
Tuk menyinari semua
Isi alam semesta

Embun pagi gelisah
Enggan untuk berpisah
Ingin lenyapkan hati yang resah

Jauh jauh kau datang
Hanya untuk memandang
Betapa indah alam

Sekejap kau terdiam
Saat senja kan jelang
Tangis perpisahan tak tertahan

Oh
Adakah semua ini Engkau ciptakan
Berapa dosa yang telah ia lakukan
Tiada damai di hati ia rasakan

Siapa kan menjawabnya?
Jika ia ingin bertanya

Salahku dimana?
Tunjukkan dimana?
Yang ini salah siapa?




Ijinkan aku menyayangimu

Andai kau ijinkan,
Walaupun hanya sekejap memandangmu

akan Kubuktikan padamu,
aku memiliki rasa

Cinta yang kupendam,
yang tak sempat aku tanyakan

Karena kau tlah memilih,
menutup pintu hatimu

Ijinkan aku membuktikan padamu

Inilah sesungguhnya rasa

Ijinkan aku menyayangimu
Sayangku

Dengarkanlah isi hatiku

cintaku

Dengarkanlah isi hatiku




Bila cinta tak menyatukan kita

Bila kita tak mungkin bersama

Ijinkan aku tetap menyayangimu


Aku sayang padamu

Ijinkan aku membuktikan


Penantian

Bila mentari bersinar lagi

Hatikupun ceria kembali ...

Kutatap mega tiada yang hitam

Betapa indah hari ini

Kumenanti seorang kekasih

Yang tercantik yang datang dihari ini

Adakah dia kan selalu setia

Bersanding hidup penuh pesona

Harapanku

Jangan kau tak menepati

Datanglah dengan kasihmu

Andai kau tak datang kali ini

Punah harapanku



Memetik gitar dan bernyanyi

Pada waktu tak bertepi

Di atas langit di bawah tanah

Di hembus angin terseret arus

Untuk saudara tercinta

Untuk Jiwa yang terluka

Tengah lagu suaraku hilang

Sebab hari semakin bising

Hanya bunyi peluru di udara

Gantikan denting gitarku

Mengoyak paksa nurani

Jauhkan jarak pandangku

Bibirku bergerak tetap nyanyikan cinta

Walau aku tahu tak terdengar

Jariku menari tetap takkan berhenti

Sampai wajah tak murung lagi

Amarah sempat dalam dada

Namun akalku menerkam

Kubernyanyi di matahari

Kupetik gitar di rembulan

Di balik bening mata air

Tak pernah ada air mata


Hasrat hati

Telah kuberikan semua yang ada didalam jiwa
Tak tersisa walau sekecil debu
Ku ikhlaskan goresan rasa namun kata yang indah
Selalu berlabuh di tempat yang salah

Hari sepi menikam dalam
Tak adakah secercah harapan

Biduk cinta yang hampir karam coba aku tahan
Sempat goyah sempat aku bosan
Hasrat hati yang kini terganggu oleh rasa ragu
Kemanakah rindu yang kemarin

Ungkapkanlah isi hatimu
Jangan pernah berpaling dariku
Tunjukkanlah rasa cintamu
Jangan sampai aku bertanya

Apakah aku benar-benar memiliki
Apakah aku benar-benar memiliki
Kamu






Tidak ada komentar:

Posting Komentar